METRO SURABAYA – Kekayaan herbal Nusantara perlu dimanfaatkan secara bijak, aman, dan berbasis bukti. Pesan ini disampaikan Dr. Maya Septriana, S.Si., Apt., M.Si., dosen D4 Pengobat Tradisional (Battra) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) berjudul “Dari Tradisi Menjadi Industri: Herbal untuk Kesehatan dan Nilai Ekonomi”. Diskusi yang diselenggarakan JTV di Studio 3 Surabaya pada Jumat (23/10/2026) itu juga menghadirkan Dra. Minarni Purnomo, Apt., M.Si., Ketua GP Jamu, dan Dr. Enung Siti Nurhidayah, Kepala Pusat Penelitian dan Inovasi Rempah dan Obat Universitas Trunojoyo Madura. Sejumlah mahasiswa Battra UNAIR turut hadir menyimak pertemuan perspektif akademisi, peneliti, dan pelaku industri jamu tersebut. Dr. Maya membuka paparannya dengan mengingatkan bahwa jahe, kunyit, temulawak, dan kencur telah lama digunakan secara turun-temurun untuk menunjang kesehatan. Menurutnya, warisan ini baru memberi manfaat optimal jika ditempatkan secara proporsional, yakni sebagai pelengkap dan bukan jalan pintas. Ia menguraikan tiga sisi peran herbal: kebugaran, yaitu mendukung pola hidup sehat dan stamina harian; warisan, yang harus dilestarikan lewat pendidikan, penelitian, dan praktik yang bertanggung jawab; serta batas aman, yaitu kesadaran bahwa herbal tidak menggantikan pemeriksaan maupun obat dari tenaga kesehatan. Contohnya, jamu boleh diminum untuk menjaga stamina, tetapi tidak sebagai pengganti obat dokter. Ia juga menekankan perlunya membedakan antara menjaga kesehatan dan mengobati penyakit, dua hal yang menurutnya sering dicampuradukkan masyarakat. Untuk pemeliharaan kesehatan, herbal dapat membantu stamina dan melengkapi gaya hidup sehat seperti tidur cukup, rutin bergerak, dan makan seimbang. Namun, keluhan yang menetap atau berat termasuk ranah penanganan penyakit yang memerlukan pemeriksaan, diagnosis, dan terapi medis. Karena itu, masyarakat diminta waspada terhadap klaim “menyembuhkan” yang berlebihan dan berani menanyakan buktinya. Agar lebih cermat, Dr. Maya membagikan lima langkah sebelum mengonsumsi herbal: memastikan identitas bahan sudah tepat; memilih produk berizin edar BPOM dan memakainya sesuai aturan serta takaran; memastikan pengolahan dan penyimpanan bersih; dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila sedang mengonsumsi obat, hamil, atau memiliki penyakit kronis. Ia juga mengingatkan agar pertolongan medis tidak ditunda saat muncul tanda bahaya, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, demam tinggi, nyeri berkelanjutan, perdarahan, muntah atau diare hebat, atau gejala yang memburuk setelah minum ramuan herbal. Ia secara khusus menyoroti kebiasaan sebagian orang yang beralih total ke herbal, dengan pesan agar obat dokter tidak dihentikan tanpa arahan tenaga kesehatan. Menurut Dr. Maya, herbal yang aman dan bermanfaat tidak bisa diwujudkan oleh satu pihak saja. Pemerintah mengatur, mengawasi, dan melestarikan; akademisi menghadirkan riset berbasis bukti; industri menjalankan hilirisasi sesuai standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB); tenaga kesehatan memeriksa penggunaan dan potensi interaksi; sementara media dan masyarakat membangun literasi. Dalam kerangka ini, perguruan tinggi seperti Battra UNAIR memegang posisi strategis di antara warisan pengetahuan lokal dan tuntutan pembuktian ilmiah, dan kehadiran mahasiswa di forum ini menjadi bekal berharga bagi calon praktisi. Pesan tersebut sejalan dengan tema FGD, yaitu mendorong herbal Nusantara tidak hanya lestari sebagai tradisi, tetapi juga berkembang menjadi industri yang aman, berkualitas, bernilai ekonomi, dan dapat berjalan seiring layanan kesehatan modern selama literasi masyarakat terus dibangun dan klaim berlebihan diuji dengan bukti. Post navigation NoLimit Hibahkan Akses Dashboard Media Monitoring Rp 2 Miliar, 100 Mahasiswa Vokasi Unair Jadi Penerima