Nenek Asal Pasuruan Naik Haji Hasil Nabung Jualan Cilok Selama 65 Tahun
METRO SURABAYA – Mislicha Kasib, warga Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, akhirnya bisa bernafas lega setelah menabung bertahun-tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji di tahun ini. Setiap pagi pukul 08.00 WIB, nenek yang sudah berusia 85 tahun ini setiap hari mendorong gerobak dari rumahnya menuju Jalan Trunojoyo, Kota Pasuruan, tepatnya depan SMPN 5 Pasuruan yang berjarak sekitar 1 kilometer.
Di dalam gerobaknya, panci panas berisi bulatan-bulatan cilok dan tahu siap dijajakan ke pelanggan. Satu porsi cilok dan tahu dikemas ke dalam mangkuk disiram sedikit kuah dan bumbu kacang. “Saya jualan cilok sudah 65 tahun dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang anak-anak pulang sekolah. Dorong gerobak sendiri dari rumah, saya kuat,” kata Mislicha kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Untuk bahan-bahan cilok hingga pengolahan dibantu oleh anaknya yang sudah sibuk di dapur sejak pukul 02.00 WIB. Mislicha memiliki delapan anak, dua diantaranya meninggal dunia. Sebagian dari mereka juga ikut membantu berjualan cilok. “Dulu saya jualan di kantin sekolah, terus digantikan mantu saya. Anak yang terakhir juga jualan cilok di gerobak tapi dekat rumah,” ujarnya. Bagi Mislicha, 65 tahun berjualan cilok bukan waktu yang singkat. Sekarang pendapatannya sekitar Rp 50.000 per hari.
Sedangkan uang penjualan dibagi untuk modal belanja, menabung, dan arisan. “Uang untuk haji dari nabung sedikit-sedikit, uang sisa Rp 10.000-Rp 15.000 ditabung ke celengan. Terus ikut arisan juga. Kalau enggak nabung gak bisa, karena pengeluarannya juga banyak,” katanya.
Setelah uang terkumpul, dia mendaftar haji pada 2015 dan berkesempatan berangkat tahun 2026 tergabung dalam Kloter 10. Rencananya, dia akan diberangkatkan menuju Tanah Suci pada Jumat ini pukul 20.20 WIB. “Alhamdulillah senang perasaannya. Di sini juga ketemu sama teman-teman, ada tetangga juga yang berangkat haji. Saya berangkat sama anak saya,” ungkapnya.
Mariyatul Kibtiyah (35), anak terakhir Mislicha mendaftar haji pada 2020 dan ikut penggabungan pendamping ibu yang seorang lansia. Dia sebelumnya merupakan karyawan di salah satu pabrik. Kemudian, memilih berjualan cilok di depan gang rumahnya mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB. “Senang bisa menemani ibu. Saya daftar tahun 2020 juga hasil nabung jualan cilok, saya nabung ke bank kalau ada sisa belanja bawang atau tepung,” katanya.
