Pakar UNAIR Tekankan Pentingnya Sistem K3 untuk Mewujudkan Rumah Sakit yang Aman
Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi elemen penting dalam menciptakan lingkungan rumah sakit yang aman bagi pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, serta seluruh pihak yang beraktivitas di dalamnya. Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dengan berbagai potensi risiko, rumah sakit dituntut memiliki sistem kesiapsiagaan yang kuat untuk menghadapi kondisi darurat maupun bencana.
Dosen Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Neffrety Nilamsari, menjelaskan bahwa rumah sakit merupakan lingkungan kerja dengan tingkat risiko yang beragam. Risiko tersebut tidak hanya mengancam tenaga kesehatan, tetapi juga kelompok rentan seperti pasien kritis, lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Menurutnya, peristiwa kebakaran yang terjadi di salah satu rumah sakit di Jawa Timur beberapa waktu lalu menjadi pengingat akan pentingnya penerapan K3 secara optimal. “Penerapan K3 untuk pencegahan kecelakaan maupun kebakaran di rumah sakit merupakan satu hal yang penting,” ungkapnya.
Kesiapsiagaan Jadi Bagian Penting Manajemen K3
Neffrety menjelaskan bahwa manajemen K3 memiliki keterkaitan erat dengan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari ketersediaan jalur evakuasi, sarana pendukung keselamatan, hingga prosedur operasi standar yang jelas dalam proses mitigasi dan evakuasi bencana.
Hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengharuskan fasilitas kesehatan memiliki sistem kesiapsiagaan dan tanggap darurat bencana. Dengan adanya sistem yang terstruktur, proses evakuasi dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi ketika terjadi keadaan darurat.
Selain penyediaan sarana dan prosedur, rumah sakit juga perlu melaksanakan simulasi tanggap darurat secara berkala. Simulasi tersebut berfungsi untuk meningkatkan kesiapan seluruh unsur rumah sakit dalam menghadapi berbagai kemungkinan risiko serta meminimalkan dampak yang dapat ditimbulkan.
Budaya Keselamatan Harus Menjadi Prioritas
Lebih lanjut, Neffrety menilai bahwa tantangan dalam penerapan K3 masih cukup besar. Keterbatasan sumber daya dan rendahnya kesadaran terhadap pentingnya keselamatan kerja sering kali menjadi hambatan dalam implementasi sistem K3 di fasilitas kesehatan.
Menurutnya, masih terdapat anggapan bahwa penerapan K3 membutuhkan biaya yang besar. Padahal, investasi pada aspek keselamatan merupakan langkah strategis untuk melindungi pasien, tenaga kesehatan, serta aset rumah sakit dalam jangka panjang.
Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan peralatan keselamatan yang sesuai dengan karakteristik risiko yang ada. Pemilihan alat proteksi yang tepat dapat meningkatkan efektivitas penanganan keadaan darurat dan mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.
Neffrety menegaskan bahwa komitmen manajemen rumah sakit menjadi fondasi utama keberhasilan penerapan K3. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan organisasi tanggap darurat, pelaksanaan simulasi secara rutin, pemeriksaan sarana dan prasarana keselamatan secara berkala, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan.
“Kesadaran terhadap keselamatan lingkungan kerja perlu terus ditingkatkan. Dengan kewaspadaan dan kesiapan yang baik, risiko bencana dapat diminimalkan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan,” pungkasnya.
