Menertawakan Keriuhan Netizen pada Disertasi 300 Halaman Ashanty


SURABAYA – Media sosial kembali membuktikan kelucuannya. Berbekal kuota internet dan sebuah poster di Instagram, ribuan netizen mendadak bertransformasi menjadi “polisi ejaan” hingga “dosen penguji tingkat doktoral”. Korbannya kali ini adalah Ashanty Hastuti, S.Sos., M.M., yang baru saja merampungkan Ujian Doktor Terbuka di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair).

Keriuhan ini bermula saat akun Instagram @pascasarjana_unair berkolaborasi dengan @ananghijau dan @ashanty_ash mengunggah poster ujian terbuka Ashanty. Judul disertasinya terpampang: “Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers Dan Generasi X Terhadap Transformasi Digital Di Industri Musik Indonesia”. Bukannya ucapan selamat yang mendominasi, kolom komentar justru dipenuhi dengan warganet yang sibuk menguliti poster tersebut dari berbagai sisi.

Kolom komentar pun terpecah menjadi beberapa “divisi”. Pertama, ada divisi “polisi tata bahasa” yang sibuk menegur admin pascasarjana terkait kesalahan penulisan di poster. Akun @authonulmuther, misalnya, memberikan teguran singkat kepada admin, “Itu judul direvisi dulu.” Teguran ini diperjelas oleh @arifogie.arcom yang memberikan “masukan” panjang lebar terkait aturan PUEBI/EYD, mengkritik penggunaan huruf kapital pada kata hubung seperti ‘Dan’, ‘Di’, dan ‘Terhadap’ yang memang keliru diketik oleh pembuat poster.

Selain urusan teknis poster, muncul pula “divisi penguji substansi”. Banyak yang menyamakan tingkat kesulitan judul tersebut dengan skripsi mahasiswa S1. Ada pula akun centang biru @ginanjarrahmawan yang tiba-tiba menyarankan agar disertasi ini menampilkan “model baru” dari teori RAT. Alih-alih terlihat akademis, komentar ini justru memicu reaksi warganet lain yang menganggapnya sekadar mencari panggung atau pansos di lapak sang artis.

Fenomena judging a dissertation by its poster ini memancing reaksi gemas dari warganet yang lebih objektif. Akun @marcoarrantez melontarkan pertanyaan menohok kepada para pengkritik, “Mau nanya nih yang nyinyirin judul kayak S1 lah, level disertasi kayak gini lah, bla bla bla. Apakah kalian bergelar Profesor/Doktor? Apakah kalian dosen penguji atau dosen promotor doktoral?”

Sindiran serupa datang dari @fatikhaarizqy_, yang menyoroti fenomena latah ini. “Banyak yg tiba2 jadi dosen penguji di kolom komentar ini hihi. Kalau penasaran, silakan disimak saja ujian doktor terbukanya, lalu kalo emg dirasa ‘kok kayak penelitian S1, kok cuma gitu aja’ silakan disampaikan juga,” tantangnya.

Dan benar saja, segala keraguan dan nyinyiran netizen itu langsung mendapat tamparan keras di ruang sidang. Dosen FISIP Unair yang meninjau penelitian ini memberikan tanggapan tajam bagi mereka yang menganggap remeh.

“Bayangkan siapa yang memikirkan seorang Rafika Duri, seorang Rhoma Irama harus berhadapan dengan anak-anak muda dalam dunia digital. Kelihatannya simpel, tapi coba baca dulu disertasinya 300 halaman,” tegasnya.

Kekuatan disertasi tersebut justru terletak pada novelty dokumentasi pengalaman dan pendekatan storytelling musisi senior, sesuatu yang sangat jarang dikaji secara akademik.

Ashanty sendiri menanggapi hal ini dengan kepala dingin. Ia menyadari betul persepsi publik ketika pertama kali melihat judulnya.

“Semoga bisa berguna buat industri musik Indonesia. Walaupun terlihat hanya perbandingan antara baby boomers dan Gen X dalam beradaptasi di digital, tapi yang dibahas dan dibedah banyak sekali,” jelasnya usai sidang.

Di usianya yang tak lagi muda, dengan status sebagai istri, ibu, nenek, serta seabrek jadwal di dunia hiburan, Ashanty membuktikan bahwa gelar doktoralnya tidak diraih dengan modal “judul gampang”.

“Aku sangat bangga buat orang-orang yang masih mau belajar di umur yang mungkin sudah tidak muda lagi… tetap berusaha bagaimana harus selesai dengan baik,” tuturnya bangga.

Pada akhirnya, ujian terbuka Ashanty bukan sekadar ajang mempertahankan disertasi 300 halaman, tetapi juga menjadi cermin bagi netizen Indonesia: betapa mudahnya kita meremehkan kerja keras bertahun-tahun orang lain hanya bermodalkan ego, kesalahan ketik admin, dan asumsi dangkal dari sebaris teks di media sosial.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *