Usaha Digital dan Rumahan Jadi Fokus Sensus Ekonomi Surabaya

Perkembangan usaha digital dan aktivitas ekonomi berbasis rumah tangga menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya bersama Badan Pusat Statistik Surabaya mendorong pendataan menyeluruh agar perubahan struktur ekonomi dapat terekam secara lebih akurat.
Sosialisasi dan pengisian mandiri Sensus Ekonomi 2026 digelar di Gedung Sawunggaling, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat basis data pelaku usaha nonpertanian, mulai dari UMKM, usaha besar, ekonomi kreatif, hingga pelaku usaha berbasis platform digital.
Menangkap Perubahan Pola Usaha
Kepala BPS Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menyampaikan bahwa Sensus Ekonomi 2026 menjadi instrumen penting untuk membaca perubahan pola usaha masyarakat. Pergeseran kegiatan ekonomi menuju ruang digital dinilai belum sepenuhnya terjangkau melalui pola pendataan konvensional.
“Banyak pelaku usaha yang kini beralih ke platform digital dan belum seluruhnya terjangkau dalam pendataan. Ini tantangan yang harus dijawab,” kata Arrief.
Menurut Arrief, sensus ini tidak hanya menyasar perusahaan formal, tetapi juga usaha berbasis rumah tangga. Pendataan tersebut penting karena banyak aktivitas ekonomi kreatif, perdagangan daring, dan usaha jasa berskala kecil berkembang dari lingkungan rumah.
BPS Surabaya menargetkan sekitar 415 ribu unit usaha terdata dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Untuk mendukung proses tersebut, sekitar 1.900 petugas akan diturunkan di berbagai wilayah Surabaya hingga Agustus 2026.
Data Aman dan Bukan untuk Pajak
Arrief menjelaskan bahwa data yang dikumpulkan mencakup identitas usaha, nomor induk berusaha, karakteristik usaha, jumlah tenaga kerja, pendapatan, pengeluaran, serta aset. Seluruh informasi pelaku usaha dijamin kerahasiaannya dan hanya disajikan dalam bentuk agregat.
“Data bersifat rahasia dan hanya disajikan dalam bentuk agregat. Tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan,” tegas Arrief.
Penegasan tersebut menjadi penting agar pelaku usaha tidak ragu memberikan data secara lengkap dan benar. Partisipasi pelaku usaha menjadi kunci untuk menghasilkan gambaran ekonomi Surabaya yang utuh, terutama pada sektor yang selama ini belum seluruhnya tercatat.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Surabaya, Syamsul Hariadi, menilai data ekonomi yang akurat sangat dibutuhkan dalam merancang kebijakan pembangunan. Surabaya saat ini berada dalam fase transformasi ekonomi yang cepat, termasuk perkembangan ekonomi digital, ekonomi kreatif, dan ekonomi berkelanjutan.
“Kita sedang berada dalam fase transformasi ekonomi yang sangat cepat, mulai dari ekonomi digital, ekonomi kreatif, hingga ekonomi berkelanjutan,” tegas Syamsul.
Syamsul menambahkan bahwa data sensus akan menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan ekonomi daerah. Informasi yang diberikan pelaku usaha dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Sensus Ekonomi 2026 diharapkan mampu menghadirkan potret ekonomi Surabaya secara lebih komprehensif. Dengan data yang kuat, pemerintah dapat merancang kebijakan yang tidak hanya berbasis perkiraan, tetapi berdasarkan kondisi nyata pelaku usaha di lapangan.
