Fauzan Fuadi Soroti Kesejahteraan Guru dalam Podcast Ngode Bersama Dimar Laksana

Fauzan Fuadi, S.I.Kom., M.Med.Kom., menyoroti pentingnya penghormatan terhadap profesi guru dalam podcast Ngode Bersama Dimar Laksana. Dalam perbincangan tersebut, Fauzan menyampaikan bahwa penghormatan terhadap guru perlu diwujudkan melalui peningkatan kualitas profesi, standar pendidikan, dan kesejahteraan yang layak.
Dalam podcast tersebut, Fauzan berdialog dengan Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., pakar komunikasi dan dosen FISIP Universitas Airlangga sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Wilayah Jawa Timur periode 2026–2028. Pembahasan keduanya menyoroti posisi guru sebagai profesi strategis yang berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Betapa penghormatan terhadap profesi sebagai guru itu menjadi sesuatu yang dimuliakan sekali,” ujar Fauzan dalam podcast Ngode Bersama Dimar Laksana.
Profesi Guru Perlu Dimuliakan
Fauzan menyampaikan bahwa penghormatan terhadap guru tidak cukup diberikan dalam bentuk simbolik. Menurutnya, profesi guru perlu didukung dengan sistem pendidikan yang kuat, standar kompetensi tinggi, dan jaminan kesejahteraan yang memadai.
Dalam podcast tersebut, Fauzan mencontohkan Finlandia sebagai negara yang memberikan perhatian besar terhadap profesi guru. Ia menyebutkan bahwa proses menjadi guru di Finlandia membutuhkan persiapan akademik tinggi, bahkan hingga jenjang magister.
“Kita tahu di Finlandia, mempersiapkan diri jadi guru itu harus S2. Tapi gajinya bisa satu bulan minimal 60 juta,” ujar Fauzan.
Pernyataan tersebut mendapat respons dari Suko Widodo yang menilai angka tersebut bahkan dapat melampaui pendapatan anggota legislatif. Fauzan kemudian menegaskan kembali bahwa kesejahteraan guru dalam contoh tersebut menunjukkan tingginya penghargaan terhadap profesi pendidik.
“DPR kalah ini,” ujar Suko Widodo.
“DPR kalah. Iya, 60 sampai 90 juta,” ujar Fauzan.
Kesejahteraan Berkaitan dengan Kualitas Pendidikan
Fauzan juga menyinggung hubungan antara kesejahteraan guru dan kualitas proses pembelajaran. Guru yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik dinilai dapat mengajar dengan lebih fokus tanpa terbebani persoalan kebutuhan dasar keluarga.
“Estimasi ketika guru mengajar tanpa memikirkan besok mau masak apa, anaknya sudah ke mana, output-nya bisa dibandingkan,” ujar Fauzan.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Suko Widodo menilai pembahasan itu mengarah pada persoalan penting mengenai peningkatan kesejahteraan guru. Isu tersebut menjadi relevan karena kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi tenaga pendidik.
Pernyataan Fauzan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru tidak hanya berkaitan dengan pendapatan pribadi. Kesejahteraan guru juga berhubungan dengan mutu pengajaran, kualitas peserta didik, dan arah pembangunan pendidikan.
Podcast Ngode Bersama Dimar Laksana membuka ruang diskusi mengenai pentingnya menempatkan guru sebagai profesi yang dihormati. Pembahasan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan perlu berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.
Sumber: Podcast Ngode Bersama Dimar Laksana.
