Aksi Mahasiswa Keperawatan UNAIR Edukasi Penggolongan Obat Bahan Alam

Penggunaan obat bahan alam di Indonesia terus mengalami lonjakan yang signifikan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk kembali ke bahan-bahan alami (back to nature). Namun, tren positif ini belum dibarengi dengan pemahaman literasi yang merata mengenai regulasi dan penggolongan obat tradisional. Sebagian besar masyarakat masih menyamaratakan semua obat herbal sebagai jamu. Masyarakat belum memahami perbedaan standardisasi, uji klinis, keamanan, dan efikasi khasiatnya.

Latar Belakang dan Pelaksanaan Kegiatan

Merespons fenomena tersebut, mahasiswa Semester 2 Kelompok 4 Farmakologi D3 Keperawatan Fakultas Vokasi UNAIR menyelenggarakan pengabdian masyarakat. Kegiatan tersebut berupa penyuluhan edukatif mengenai penggolongan obat bahan alam. Kegiatan edukasi kesehatan ini dilaksanakan secara langsung pada tanggal 19 April 2026 di lingkungan RW 11 Perum Graha Bunder Asri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Langkah nyata ini diambil sebagai upaya masif untuk menekan risiko kesalahan pemilihan dan penggunaan obat herbal di tingkat rumah tangga yang dipicu oleh minimnya informasi.

Sasaran strategis dari kegiatan ini adalah ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 11 Perum Graha Bunder Asri yang sedang menghadiri agenda arisan rutin bulanan. Pemilihan kelompok PKK didasari peran penting perempuan sebagai manajer kesehatan keluarga. Ibu-ibu PKK bertugas mengambil keputusan terkait pertolongan pertama dan konsumsi suplemen kesehatan sehari-hari. Sebanyak 30 peserta hadir dan berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian acara.

Pelaksanaan penyuluhan dikemas secara interaktif melalui metode community education. Metode yang digunakan meliputi ceramah dua arah, diskusi santai, serta pembagian poster edukatif dan leaflet. Materi yang disampaikan berfokus pada tiga penggolongan obat bahan alam yang legal dan diakui BPOM Republik Indonesia. Peserta juga dikenalkan dengan logo resmi pada kemasan setiap produk.

Materi Edukasi Penggolongan Obat Bahan Alam

Dalam pemaparan materi, penjelasan dimulai dari Jamu yang digambarkan sebagai obat tradisional warisan budaya dengan karakteristik utama berupa logo lingkaran beranting daun hijau. Pembuktian khasiat dan keamanan jamu didasarkan sepenuhnya pada data empiris atau riwayat penggunaan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Di tingkat selanjutnya, terdapat Obat Herbal Terstandar (OHT) yang ditandai dengan logo lingkaran berkandungan tiga bintang hijau. OHT berada di atas kelas jamu karena bahan bakunya wajib melewati proses standardisasi laboratorium yang ketat serta telah lolos uji praklinis berupa uji toksisitas dan efikasi pada hewan coba.

Sementara itu, kasta tertinggi dari obat bahan alam ditempati oleh Fitofarmaka yang ditandai dengan logo lingkaran dengan jari-jari menyerupai serpihan salju atau kristal es. Proses pembuktian ilmiah fitofarmaka telah setara dengan obat modern. Fitofarmaka wajib melewati uji klinis pada manusia sehingga keamanan dan manfaat medisnya terjamin secara klinis.

Mahasiswa D3 Keperawatan UNAIR juga meluruskan persepsi keliru mengenai obat herbal. Masyarakat masih menganggap obat herbal mutlak bebas dari efek samping. Peserta diberikan edukasi mengenai tata cara konsumsi obat herbal yang aman dan ketepatan dosis. Peserta juga dikenalkan masa kedaluwarsa serta bahaya mencampur obat herbal dengan obat kimia tanpa petunjuk tenaga medis.

Evaluasi dan Dampak Kegiatan

Evaluasi tingkat pengetahuan peserta dilakukan secara terukur menggunakan instrumen kuesioner pre-test sebelum pemaparan materi dan post-test setelah seluruh sesi diskusi berakhir. Berdasarkan hasil pre-test, mayoritas ibu-ibu PKK memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Sebagian besar peserta belum mengetahui logo OHT dan fitofarmaka. Peserta juga menganggap seluruh obat tradisional adalah jamu biasa.

Setelah edukasi melalui poster dan penjelasan produk komersial, tingkat pemahaman peserta meningkat drastis. Hasil post-test menunjukkan lompatan nilai rata-rata dari 54,2 menjadi 88,5, dengan dominasi kategori pengetahuan “Baik” mencapai 83,3 persen dari total peserta. Media leaflet yang ringkas dan informatif menjadi sarana efektif bagi warga. Leaflet tersebut dapat digunakan sebagai panduan mengenali obat alami yang aman.

Melalui keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak, jeli, dan rasional dalam memilih serta mengonsumsi produk obat bahan alam sesuai dengan peruntukannya. Di sisi lain, kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan dampak timbal balik yang positif bagi internal civitas akademika Universitas Airlangga. Mahasiswa semester awal D3 Keperawatan dapat mengasah kompetensi komunikasi publik dan menerapkan teori farmakologi dasar secara nyata. Kegiatan ini juga memberikan kontribusi bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *